Situs Alas Kebutan: Destinasi Wisata Purbakala Penuh Teka-Teki


Situs Alas Kebutan: Destinasi Wisata Purbakala Penuh Teka-Teki

Sampai saat ini, Situs Alas Kebutan terdengar asing bagi mayoritas masyarakat Tulungagung. Padahal Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang berpotensi sebagai tujuan wisata, mulai dari wisata purbakala, alam, sampai buatan. Akan tetapi, mayoritas destinasi wisata tersebut khususnya wisata purbakala, tampak termarginalkan dan membutuhkan perhatian dan penelitian secara profesional. 

Secara umum, Situs Alas Kebutan di Tulungagung lebih populer sebagai Situs Setren, sebab terletak di Dusun Setren, Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan Data dan Statistik Umum Kabupaten Tulungagung Tahun 2018, perihal tempat wisata menurut nama dan alamat pada tahun 2017, Situs Alas Kebutan tergolong sebagai wisata purbakala. Akan tetapi, situs ini tidak memiliki papan petunjuk atau akses yang memadai layaknya wisata-wisata pada umunya, kecuali pelancong mau repot-repot melakukan history tour bersama seorang guide atau bertanya pada masyarakat sekitar. Selain itu, pelancong juga akan disambut jalan makadam hingga jalan setapak melalui ladang-ladang masyarakat.

Sukarnya perjalanan akan terbayar seketika, di mana pelancong dapat menemukan sebuah arca raksasa, batu persegi panjang, lumpang, dan benda-benda purbakala lainnya. Sebelumnya, Situs Alas Kebutan pernah disebut-sebut dalam Inventaris der Hindoe-Oudheden yang ditulis Dr. R. D. M. Verbeek pada tahun 1915. Di halaman 305 tercacat perihal arca raksasa sebagai berikut, “1988, Kebaireng: In het bosch der padoekoehan Setrem een onafgewerkte, ruw bekapte Raksasa.”

Situs Alas Kebutan Berdasarkan Legenda
Sebenarnya, terdapat banyak versi mengenai legenda Situs Alas Kebutan yang tersebar di masyarakat. Akan tetapi berdasaran paparan Heyu sebagai ketua Komunitas Asta Gayatri, menurut cerita masyarakat, Dusun Setren merupakan wilayah kaum perempuan. Menurut legenda, jika terdapat masyarakat lokal yang melahirkan bayi laki-laki, maka mayoritas bayi-bayi tersebut akan meninggal dunia.

Diduga Sebagai Lokasi Perbengkelan
Secara geografis Situs Alas Kebutan terletak di dataran tinggi yang tampak berbukit-bukit. Devi sebagai anggota Komunitas Asta Gayatri menduga lokasi ini merupakan produsen batu-batu andesit kualitas terbaik, sebab terjadi proses pengangkatan kulit bumi. Kemudian Devi berpendapat bahwa arca raksasa di situs ini mungkin tergolong sebagai unfinish atau belum selesai. Oleh karena itu, Situs Alas Kebutan diduga sebagai lokasi perbengkelan.

Secara umum perbengkelan merupakan tempat pembuatan benda-benda purbakala seperti arca, baik setengah jadi atau benar-benar selesai sebelum dikirim ke tempat-tempat si pemesan. Selain itu, jika ditelaah melalui keberlanjutan masa-masa prasejarah, perbengkelan juga ditemukan di tempat-tempat yang memiliki batu-batu andesit dengan kualitas terbaik.

Akan tetapi, Devi menambahkan teori ini juga memiliki kelemahan, seperti medan situs yang tampak terlalu berat untuk mobilitas benda-benda purbakala berukuran raksasa. Selain itu, menurut Teguh sebagai anggota Komunitas Asta Gayatri yang terlibat dalam diskusi, perbengkelan tidak harus berada di wilayah pegunungan, tetapi juga dapat berada di tempat-tempat sekitar candi. Misalnya di Situs Kumitir yang masih menyisakan bakal-bakal kalamakara.

Situs Alas Kebutan: Destinasi Wisata Purbakala Penuh Teka-Teki
Teka-Teki Arca Raksasa di Situs Alas Kebutan
Agung selaku seksi pendidikan di Komunitas Asta Gayatri berpendapat bahwa arca raksasa di  Situs Alas Kebutan bukan berasal dari masa prasejarah. Tetapi paling tidak berasal dari masa klasik, seperti masa Hindu atau Buddha. Hal ini dapat dilihat dari ukiran yang menyerupai tali di tubuh arca. Tali semacam ini dapat disebut sebagai upawita atau tali kasta.

Arca raksasa Situs Alas Kebutan mungkin adalah kala atau patung penjaga. Pasalnya, kala atau arca perwujudan biasanya juga memakai upawita. Misalnya, di patung perwujudan Ratu Rajapatni Gayatri di Candi Boyolangu. Akan tetapi, arca ini mungkin tergolong sebagai arca unfinish atau arca yang belum selesai. Hal ini diduga melalui temuan pahatan-pahatan yang kasar. 

Selain itu, jika diamati baik-baik pada bagian kepala arca terdapat pahatan yang menyerupai mahkota. Rambutnya juga tampak tergelung. Namun, di bagian bawah seolah-olah arca terlihat belum selesai dipahat. Berdasarkan diskusi dengan anggota Komunitas Asta Gayatri lainnya yakni Mustakim, Agung menduga mungkin di bagian kiri arca adalah gada. Akan tetapi, secara umum gada biasa terdapat di sebelah kanan.

Agung juga menjelaskan perihal pendapat-pendapat lain yang menyatakan bahwa arca raksasa yang ditemukan adalah Siwa, Bima, atau membentuk arca-arca perwujudan yang lain. Sayangnya, karena pembuatan arca yang dinilai belum selesai, hal ini tidak dapat diidentifikasi secara pasti, melainkan hanya dapat menyampaikan dugaan-dugaan secara teroritis.

Meminjam istilah gramadewa dari Agus Aris Munandar, Agung menduga mungkin arca ini merupakan gramadewa yang dimaksud. Sedangkan berdasarkan istilah, gramadewa adalah arca-arca yang dipuja masyarakat lokal. Gramadewa juga cenderung sukar diidentifikasi dengan ciri-ciri Hindu atau Budha. Akan tetapi, gramadewa tetap dipengaruhi kebudayaan-kebudayaan sebelumnya, seperti kebudayaan di masa praaksara.

Namun setelah datangnya pengaruh Hindu-Buddha, gramadewa tetap disembah dengan menambah atribut-atribut dari kebudayaan-kebudayaan baru, meskipun tidak secara sempurna. Kemudian, jika arca raksasa di Situs Alas Kebutan benar-benar gramadewa tentunya hal ini menunjukkan adanya keberlanjutan dari tradisi spiritual di wilayah Setren. Agung menjelaskan bahwa gramadewata muncul di akhir masa Kerajaan Majapahit, di mana terjadi perubahan sosial di masyarakat. Pasalnya, Islam menyebabkan kemunduran Hindu-Buddha di Nusantara. Dampakknya, unsur-unsur budaya lokal kembali terangkat. 

Terlepas dari semua itu, Agung menilai Situs Alas Kebutan merupakan wilayah yang sejak lama dipakai sebagai pemukiman, baik permanen atau insidental, sebab ditemukan benda-benda purbakala lainnya. Namun lagi-lagi, arca raksasa dan area Situs Alas Kebutuhan tetap membutuhkan penelitian yang mendalam. 

Situs Alas Kebutan: Destinasi Wisata Purbakala Penuh Teka-Teki
Batu Persegi Panjang dan Jawaban yang Terkubur
Selain arca raksasa, Situs Alas Kebutan juga meninggalkan batu persegi panjang yang menarik. Batu ini telah mengalami perlakuan, di mana salah satu ujungnya tampak dibentuk semacam potongan. Menurut Agung, mungkin batu ini menyerupai puzzle dan bersambung dengan batu-batu lainnya untuk membentuk suatu struktur. Akan tetapi jika demikian, di mana batu-batu lainnya? Jawabannya belum diketahui. 

Dengan demikian, Situs Alas Kebutan merupakan destinasi wisata purbakala yang membutuhkan perhatian pihak-pihak terkait. Studi perbandingan dan penelitian lebih lanjut juga sangat dibutuhkan. Sebelumnya perlu diketahui pada tanggal 15 November 2020, Komunitas Asta Gayatri mengunjungi Situs Alas Kebutan untuk memperingati hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-815.
 
Oleh: Asri S
Pecinta pohon-pohon tua di alam. Gemar mengamati aktivitas Komunitas Asta Gayatri dan memutuskan berbagi informasi dari komunitas ke khalayak melalui tulisan sederhana.

3 comments for "Situs Alas Kebutan: Destinasi Wisata Purbakala Penuh Teka-Teki"

Comment Author Avatar
Seperti halnya puzzle yang masih penuh dg teka-teki. Ditunggu kelanjutan tulisannya 👍😁

Add your comment