Dinamika Pers Bumi Putra Masa Kolonial Belanda Abad ke-20

dinamika pers bumi putra masa kolonial belanda abad ke-20

Politik etis yang diterapkan Kolonial Belanda memberikan pengaruh besar pada pers kaum bumi putra pada abad ke-20.

Sejak awal abad, sudah ada surat kabar milik kaum bumi putra dan perkembangannya terus terlihat.

Geliat perkembangan pers bumi putra masa Kolonial Belanda pada abad ke-20 nampaknya terus menyebar hingga banyak bermunculan media masa dengan berbagai topiknya.

Kebijakan Poliltik Etis Kolonial Belanda

Kondisi Hindia Belanda awal abad 20 sangat dipengaruhi transformasi negara-negara Eropa  yang menjadi negara Industri.

Kebijakan ekonomi liberal sejak tahun 1870 di Hindia Belanda nampaknya tidak berhasil mendongkrak perekonomian, justru kebijakan ini memperburuk kondisi ekonomi Hindia Belanda.

Atas pertimbangan Parlemen Belanda, kemudian diusulkan sebuah kebijakan politik etis di Hindia Belanda yang diharapkan mampu mengangkat kesejahteraan rakyat Hindia Belanda.

Kebijakan politik etis ini menekankan pada trilogi utama, yaitu kebijakan pendidikan, irigasi dan emigrasi.

Politik Etis dan Perkembangan Pers Bumi Putra

Dalam buku Gerakan Komunis Islam Surakarta 1914-1942 karya Syamsul Bakri disebutkan bahwa kebijakan politik etis di Hindia Belanda memberi pengaruh besar di bidang media masa.

Tahun 1900 di Hindia Belanda terbit sebuah surat kabar yang dimiliki oleh kaum bumi putra.

Pada 1902, Tirto Ardhi Soerjo diangkat menjadi anggota redaktur Pembrita Betawi dan beberapa bulan setelahnya ia menjadi pimpinan redaksi.

Saat menjadi pimpinan redaksi Tirto Ardhi Soejro dibantu oleh Loen Tat, sayangnya durasi memegang jabatan ini tidak berlangsung lama.

Tirto kemudian mendirikan surat kabar yang diberi nama Sunda Berita yang terbit setiap minggu.

Ketika penerbitan Sunda Berita, disebutkan dalam Tanah Air Bahasa Seratus Jejak Pers Indonesia bahwa Tirto seringkali merangkap sebagai penulis, pengatur layout, administrasi hingga urusan keuangan.

Tirto banyak menulis dengan tema yang beragaman seperti perihal ilmu pengobatan, fotografi dan lainnya.

Pada  tahun 1912 di Surakarta  terbit surat kabar  bentukan  Serikat Islam  Surakarta bernama Saroetomo dengan durasi penerbitan tiga kali dalam satu bulan.

Terbitnya Saroetomo menurut penulis menjadi simbol eksistensi Serikat Islam di Solo dan simbol bahwa umat Islam memiliki kemampuan mendirikan surat kabar.

Surat kabar yang beranggotakan Marthodarso, Sostrokoernio dan Haji Bakri ini banyak menyerukan ide gagasan Serikat Islam Surakarta serta isu-isu terkini di Hindia Belanda.

Tahun 1914, berdiri sebuah organisasi perkumpulan wartawan Hindia Belanda atau IJB yang didukung surat kabar Dunia Bergerak.

Organisasi ini bertujuan untuk menghimpun wartawan yang tersebar di Hindia Belanda.

Di Surakarta kemudian terbit surat kabar Medan Moeslimin pada 1915 yang didirikan oleh Haji Misbah dan dibantu oleh Marco.

Surat kabar ini banyak memuat berita mengenai gagasan keislaman yang hangat diperbincangan di masyarakat.

Menariknya, redaktur memberikan ruang ke pembaca untuk mengirimkan pertanyaan dan akan dijawab pada penerbitan selanjutnya.

Dalam perkembangannya, Medan Moeslimin in menjadi media perjuangan Haji Misbah menentang pemerintah Kolonial Belanda.

Puncaknya, tahun 1924 surat kabar ini banyak mengangkat gagasan komunis Islam sebagai ideologi perlawanan kapitalisme pemerintah Kolonial Belanda. 


Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Dinamika Pers Bumi Putra Masa Kolonial Belanda Abad ke-20 "